MANIK PRAPEN Warisan Kerajinan Perak di Beratan
MANIK PRAPEN Warisan Kerajinan Perak di Beratan
Namun, jejak profesi ini kini
kian jarang ditemui. Dari sekian banyak warga, hanya segelintir orang yang
masih setia menggelutinya. Bahkan, jumlah perajin yang tersisa di Beratan hanya
sekitar lima orang saja.
Dari Tour Guide Menjadi Perajin
Sudipta memulai usahanya sejak 2005. Sebelumnya, ia sempat bekerja sebagai pemandu wisata. Tapi hatinya terpanggil untuk kembali ke rumah, meneruskan usaha sang ayah yang telah lama menekuni kerajinan perak. Pilihannya ini bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga soal menjaga tradisi keluarga. “Saya tidak sendiri, adik saya juga ikut terjun. Kami ingin warisan ini tetap hidup,” ujarnya.
Kekuatan pada Ukiran Khas Buleleng
Keunikan karya Sudipta ada pada ukirannya. Jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Gianyar yang lebih rumit dan kecil, ukiran khas Buleleng justru tampil lebih besar dan berani. Ciri khas inilah yang membuat produknya mampu bertahan di tengah persaingan ketat.
Setiap karya dibuat dengan teliti
secara manual. Perak murni menjadi bahan utama, kadang diberi lapisan emas
putih atau rose gold. Semua bahan baku diperoleh dari pemasok langganannya di
Denpasar, bahkan dari perusahaan ANTAM, sehingga kualitasnya tidak diragukan.
Kejayaan “Manik Prapen”
Usaha yang ia
beri nama Manik Prapen pernah berada di puncak kejayaan. Pesanan datang tanpa
henti, hingga ia hanya sempat tidur tiga jam sehari. Karyanya pun melanglang
buana melalui berbagai pameran tingkat nasional. Tak jarang ia mendapat
apresiasi dari pemerintah daerah, bahkan istri Bupati Buleleng tercatat sebagai
salah satu pelanggannya.
Namun, semua berubah sejak pandemi COVID-19 melanda. Pameran yang seharusnya digelar pada 2020 terpaksa dibatalkan, dan produk yang sudah dipersiapkan hanya terpajang di etalase bengkelnya. Produksi ikut merosot drastis. Jika dulu sehari bisa ada tiga pesanan, kini dalam sebulan hanya tiga pesanan yang masuk.
Tantangan dari Produk Murah
Kondisi makin sulit karena pasar dibanjiri aksesoris berbahan xuping.
Produk imitasi ini harganya jauh lebih murah, sehingga lebih disukai masyarakat
yang gemar berganti-ganti perhiasan. “Kalau kami menjual gelang bayi untuk
upacara seharga Rp800 ribu, produk xuping bisa laku hanya Rp150 ribu,”
keluhnya.
Meski demikian, Sudipta memilih tetap teguh. Menggunakan bahan murah
berarti melanggar aturan asosiasi perajin perak, dan bagi Sudipta, itu sama
saja mengkhianati warisan leluhur. Masalah lain datang dari hak cipta. Banyak
desainnya ditiru sebelum sempat didaftarkan, sebab proses pendaftaran hak cipta
memakan waktu cukup lama. Akibatnya, tren yang ia ciptakan sering keburu hilang
saat produknya baru hendak dilindungi secara hukum.
Harapan yang Masih Menyala
Meski menghadapi banyak tantangan, semangat Sudipta tidak padam. Ia
berharap roda perekonomian segera berputar normal agar kerajinan peraknya bisa
kembali bangkit. Lebih dari itu, ia bermimpi ada generasi muda yang mau
melanjutkan jejaknya, menjaga agar kerajinan perak khas Beratan tidak lenyap
ditelan zaman.
Di tengah
kilauan logam mulia itu, tersimpan tekad seorang perajin yang tak sekadar
berjualan, melainkan menjaga warisan budaya yang sudah menyatu dengan identitas
Buleleng.
Komentar
Posting Komentar