Rektor Instiki 'Dorong' Mahasiswa 'Nyemplung' Jadi Pengusaha: "Kalian Elang, Kenapa Cita-citanya Ayam?"
Rektor Instiki 'Dorong' Mahasiswa 'Nyemplung' Jadi Pengusaha: "Kalian Elang, Kenapa Cita-citanya Ayam?"
Acara yang dipandu dengan apik
oleh moderator Dr. Kade Wirahyuni ini tadinya diperkirakan akan menjadi
seminar motivasi biasa. Namun, Rektor Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia
(Instiki) itu langsung mengubah suasana dengan gaya bicaranya yang meledak-ledak
dan penuh cerita inspiratif.
"Dari Undiksha Lahirkan
Generasi Pengubah," begitu judul materi yang beliau bawa. Dan benar saja,
beliau tampaknya bertekad "mengubah" pola pikir ratusan mahasiswa
yang hadir hari itu.
"Tamparan" Soal PNS
Bapak Dewo Muku, yang lebih
senang dipanggil Made Muku, tidak basa-basi. Beliau
langsung memberikan "tamparan" ramah kepada audiens.
Beliau bertanya, "Siapa yang
pingin jadi pengusaha?" Hampir 80% mahasiswa mengangkat tangan.
Tapi, pertanyaan berikutnya
membuat seisi ruangan terdiam. "Jika ada bukaan PNS, siapa yang siap tidak
ikut mendaftar?"
Yang angkat tangan? Hanya dua
atau tiga orang.
"Hati-hati," kata Pak
Muku. "Ini dual mental yang sangat berbeda." Beliau menceritakan
bagaimana orang-orang Tionghoa sukses jadi pengusaha karena di zaman Orde Baru,
mereka dilarang jadi PNS, sehingga satu-satunya pilihan adalah berkarya
sendiri.
"Kalian adalah elang-elang
dengan paruh yang sudah kuat. Kalian sudah S1. Tetapi mengapa cita-citanya
ayam?" sindirnya, yang langsung disambut tawa sekaligus pemikiran mendalam
dari mahasiswa.
Menurutnya, menjadi PNS tidak
salah, asalkan tujuannya mulia untuk memperbaiki layanan, bukan hanya mencari
"aman" dan pensiun. "Kasihan potensi yang ada dalam
dirimu," tegasnya.
Modal Utama Bukan Uang, Tapi "Siapa Kamu"
Pak Muku membuktikan ucapannya bukan omong kosong. Beliau bercerita bagaimana beliau dulu tidak bisa kuliah karena orang tua meninggal, dan harus berjuang hidup di Surabaya dengan uang kiriman Rp90.000 sebulan dari tiga kakaknya.
Prinsip hidupnya keras:
"Jika saya lahir di keluarga miskin, itu bukan salah saya. Saya enggak
bisa milih. Tetapi jika nanti saya mati miskin, itu total salah saya."
Prinsip itulah yang membuatnya
berani banting setir dari gaji besar di Astra Internasional menjadi dosen
(karena beliau passion mengajar), lalu membuka katering saat Bom Bali
menghantam pariwisata, hingga akhirnya mewujudkan mimpinya membangun kampus
Instiki.
Bagi yang khawatir soal modal,
Pak Muku punya jawaban cerdas. Beliau menceritakan usaha jualan gas LPG-nya
yang "tanpa modal".
"Saya datang ke agen, bilang
mau jual gas tapi enggak punya duit beli tabung," ceritanya. Beliau
ditolak. Tapi Pak Muku menunjukkan brosur yang sudah ia desain, yang isinya:
"LPG Resmi Pertamina. Saya menimbang di depan Anda."
Melihat ide kreatif itu, si agen
akhirnya meminjamkan 10 tabung. "Dua jam habis, Pak! Saya telepon lagi
minta kirim," katanya sambil tertawa.
"Modal
itu bukan cuma uang," tegasnya. "Ada Human Capital (skill-mu),
Social Capital (teman-temanmu), dan yang paling penting: Psychological
Capital."
"Siapa kamu? Apakah kamu
punya harapan (hope)? Punya
keyakinan (efficacy)? Tahan banting (resilience)? Dan
optimis?" Itulah modal yang sesungguhnya.
Rahasia
Sukses: "Siapa yang Dorong Aku?"
Lalu,
bagaimana cara memulainya?
Pak
Muku menceritakan sebuah dongeng tentang raja yang mengadakan sayembara:
menyeberangi sungai penuh buaya dan piranha untuk menikahi putrinya. Tiba-tiba,
ada satu orang yang nyemplung dan berenang mati-matian sampai berhasil
ke seberang.
Saat ditanya apa rahasia
suksesnya, orang itu menjawab sambil ngos-ngosan: "Jangan tanya itu dulu!
Aku yang mau tanya balik... Siapa yang dorong aku?!"
Seisi ruangan tertawa.
"Jadi, jadi pengusaha itu
bukan soal senang, tapi soal tindakan!" seru Pak Muku. "Tugas saya
hari ini mendorong kamu supaya nyemplung sekarang. Jangan nunggu sempurna.
Biarkanlah perjalanan yang menyempurnakan!"
Beliau menutup sesi dengan pesan
agar mahasiswa berani bermimpi besar. "Yang berbahaya bukan mimpi besar
yang tidak tercapai. Tapi yang berbahaya adalah mimpi kecil yang
tercapai."
Para mahasiswa pun pulang tidak
hanya dengan materi, tetapi dengan "cetak biru" baru di kepala
mereka, didorong oleh energi Rektor Instiki yang luar biasa hari itu.
Komentar
Posting Komentar